![]() |
| Foto: Surau Al-Jihad, Mulia Kerta, Benua Kayong, Ketapang |
Oleh: M. Syafi'ie Huddin*
Beberapa hari lagi, ayat ini akan kembali “naik panggung”. Setelah kurang lebih sebelas bulan seakan tersimpan rapi di dalam mushaf dan ingatan, ia akan sering dikutip di mimbar-mimbar, di podium ceramah, di masjid, mushalla, bahkan di media sosial. Ia adalah ayat 183 dari Surah Al-Baqarah, ayat yang bisa disebut sebagai “landasan konstitusional” ibadah puasa Ramadan bagi umat Islam.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini memang akrab di telinga. Namun, tidak semua orang benar-benar “terpanggil” olehnya. Tidak sedikit yang sekadar mendengar, tetapi tidak merasa disentuh. Padahal, dari kalangan kiai, ustaz, penceramah musiman, hingga guru mengaji di kampung-kampung, semuanya kembali mengingatkan, Ramadan akan tiba, puasa adalah kewajiban.
Para mufasir besar seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, hingga Quraish Shihab membedah ayat ini dengan kedalaman makna yang luar biasa. Dari sana, kita bisa memetik beberapa pelajaran penting.
Pertama, Panggilan yang menggetarkan: “Wahai Orang-orang yang Beriman”. Allah tidak memulai ayat ini dengan sekadar perintah. Ia mendahuluinya dengan panggilan iman: “Ya ayyuhalladzina amanu". Ini bukan sapaan biasa. Ini adalah sentuhan emosional. Seolah Allah berkata, “Jika engkau mengaku beriman, maka dengarkanlah.”
Puasa bukan sekadar kewajiban fisik. Ia adalah konsekuensi dari iman. Tanpa iman, puasa hanya akan menjadi aktivitas menahan lapar dan dahaga. Tetapi dengan iman, puasa menjadi ibadah yang bernilai, bahkan menjadi jalan perubahan diri.
Kedua, Ketegasan kata “Kutiba” (Diwajibkan). Kata kutiba secara harfiah berarti “dituliskan”. Dalam bahasa hukum syariat, para ulama sepakat maknanya adalah fardu (wajib). Pemilihan kata “ditulis” memberi kesan ketetapan yang kokoh, final, dan tidak bisa ditawar. Ia bukan anjuran, bukan pilihan. Ia sudah menjadi bagian dari sistem syariat yang baku. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi perintah langsung dari Allah yang tercatat dalam ketentuan-Nya.
Ketiga, Kita tidak sendiri. Allah melanjutkan, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Kalimat ini memiliki dimensi psikologis yang dalam. Puasa itu berat. Menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu bukan perkara mudah. Maka Allah menghibur, umat-umat terdahulu pun menjalaninya.
Keempat, Tujuan besarnya menjadi bertakwa. Bagian paling penting dari ayat ini adalah penutupnya: “la‘allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Di sinilah inti puasa. Puasa bukan soal menggeser jam makan dari siang ke malam. Puasa adalah proses pembentukan karakter. Jika yang halal saja, air putih, nasi, secangkir kopi mampu kita tinggalkan demi Allah, maka seharusnya yang haram lebih mudah lagi untuk ditinggalkan.
Sayangnya, setiap tahun ayat ini sering kali hanya menjadi pembuka khutbah atau tema ceramah awal Ramadan. Setelah itu, ia kembali “disimpan” sampai tahun berikutnya. Padahal, pesan ayat ini bukan musiman. Ia adalah ajakan transformasi. Ajakan untuk memperbaiki diri secara sadar dan konsisten.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar di siang hari. Ia tentang memastikan hati tetap kenyang dengan zikir, pikiran tetap bersih dari prasangka, dan lisan tetap terjaga dari dusta. Jika Ramadan hanya menghasilkan rasa haus, kita rugi. Tetapi jika ia melahirkan taqwa, maka kita telah menjawab panggilan iman itu dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya, ketika ayat 183 Surah Al-Baqarah kembali dibacakan beberapa hari ke depan, pertanyaannya sederhana: Apakah kita hanya akan mendengarnya, atau benar-benar merasa dipanggil olehnya?
* Kepala KUA Benua Kayong
