Oleh: M. Syafi'ie Huddin
Sekarang ini, kalau buka TikTok, rasanya seperti lagi ikut pengajian rumah tangga versi scroll-scroll. Caption-nya penuh hikmah, tentang suami ideal, istri sabar, keluarga harmonis, sampai tips menghadapi pasangan yang “kadang kayak WiFi - ada, tapi sinyalnya lemah.”
Lucunya, konten-konten itu cepat sekali “naik derajat” jadi status WhatsApp atau Facebook. Tinggal copy, paste, tambahin sedikit emoji, lalu… boom! berubah jadi pesan tersirat. Kadang yang baca paham, kadang yang dimaksud pura-pura tidak paham. Atau mungkin benar-benar tidak paham, karena merasa tidak bersalah. Di situlah sering muncul “ceritanya”.
Tidak jarang, status itu sebenarnya bukan sekadar berbagi, tapi bentuk “kode keras”. Semacam surat terbuka, tapi ditujukan hanya untuk satu orang, pasangan hidup. Yang lain cuma numpang baca.
“Suami yang baik itu perhatian…”
“Laki-laki sejati itu bertanggung jawab…”
Kalimatnya umum, tapi yang dituju biasanya sudah tahu - ini sedang membicarakan siapa.
Di sisi lain, hal seperti ini juga wajar. Namanya manusia, kalau kesal pasti butuh tempat meluap. Tidak semua orang nyaman bicara langsung. Akhirnya, status jadi jalan tengah, meskipun kadang lebih mirip jalan memutar daripada jalan keluar.
Padahal dalam rumah tangga, tidak semua yang terlihat itu sama dengan yang sebenarnya. Kadang seorang istri melihat suami diam, lalu disimpulkan cuek, tidak peduli, atau tidak peka. Padahal bisa jadi, si suami sedang memikirkan banyak hal yang tidak sempat ia ceritakan.
Laki-laki memang sering begitu. Banyak yang lebih memilih diam daripada bercerita. Bukan karena tidak percaya, tapi karena merasa, “biarlah aku saja yang pusing, jangan sampai istri dan anak-anak ikut terbebani.”
Namun sayangnya, niat ingin melindungi itu justru sering disalahpahami sebagai ketidakpedulian.
Sebaliknya, istri yang menulis status panjang lebar juga tidak selalu ingin menyindir. Kadang ia hanya ingin didengar. Hanya saja, caranya lewat “jalur tidak langsung”, seperti mengirim pesan, tapi lewat grup umum.
Padahal kalau dipikir-pikir, rumah tangga bukan soal siapa yang paling benar atau paling ideal seperti di video-video itu. Kehidupan nyata tidak pakai filter, tidak ada backsound mellow, dan tidak bisa diulang ketika salah berbicara.
Suami tidak harus sempurna seperti di konten. Istri juga tidak harus selalu kuat seperti di caption. Yang penting adalah saling mengerti, walaupun pelan-pelan. Saling memahami, walaupun kadang harus melewati fase salah paham terlebih dahulu.
Dan mungkin, sesekali… daripada membuat status panjang berisi “kode keras”, lebih baik langsung bilang saja:
“Pak, saya lagi kesal nih…”
Sederhana, tapi biasanya lebih cepat sampai daripada status panjang berlembar-lembar.
Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling pandai menulis caption bijak. Tapi tentang siapa yang mau tetap bertahan, saling memahami, dan tetap duduk bersama, meskipun sedang sama-sama diam, tapi hatinya masih saling menguatkan.
Ada satu hal lagi yang sering terjadi. Ketika seorang istri menemukan video TikTok yang isi dan caption-nya sangat sesuai dengan perasaannya, video itu sengaja diputar di dekat suami. Harapannya sederhana, agar suami mengerti, bahkan berubah seperti yang ditampilkan.
Kadang isi pesannya memang benar, dan suami pun menangkap maksudnya. Namun ketika disampaikan dengan cara seperti itu, yang muncul justru sering kali rasa tidak nyaman. Seperti sedang dinasihati, tapi tanpa diajak bicara. Niatnya mungkin baik, ingin mengingatkan. Tapi cara yang terasa seperti sindiran halus itu justru bisa membuat telinga panas dan hati sedikit mengeras.
Padahal, yang dibutuhkan bukan perbandingan dengan orang lain di layar, melainkan pengertian yang datang langsung dari orang terdekat. Tidak semua orang nyaman belajar dari contoh yang terasa “dipaksakan”, apalagi jika tidak diberi ruang untuk menjelaskan diri.
Maka, sekali lagi, kuncinya tetap sederhana: bicara baik-baik.
Bukan lewat suara video, tapi lewat suara hati.
Bukan lewat sindiran, tapi lewat kalimat yang jujur.
Karena dalam rumah tangga, yang paling menenangkan itu bukan nasihat yang keras terdengar, tapi sapaan pelan yang benar-benar sampai.
Wallahu a‘lam.
Tags:
Opini
