KUA Benua Kayong
KUA Benua Kayong

Imsakiyah: Disiplin Waktu, Disiplin Ibadah


Oleh ; M. Syafi'ie Huddin

Jauh-jauh hari sebelum tibanya bulan suci, kaum Muslimin sudah disibukkan dengan satu hal yang tampak sederhana namun sarat makna, yaitu menyiapkan jadwal imsakiyah Ramadhan. Selembar kertas yang berisi deretan angka-angka waktu itu mungkin terlihat biasa. Namun di baliknya, tersimpan kesungguhan, kesiapan, dan komitmen menyambut bulan yang dimuliakan Allah.

Ramadhan bukan sekadar datang lalu berlalu. Ia disambut dengan persiapan. Kita membersihkan hati dengan taubat, menguatkan fisik agar sanggup menahan lapar dan dahaga, serta menata niat agar ibadah tidak sekadar rutinitas. Namun ada satu aspek yang sering dianggap sepele, yakni kepastian waktu.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga tentang batas waktu yang jelas, kapan dimulai dan kapan diakhiri. Tanpa mengetahui batas itu, ibadah bisa kehilangan ketepatan. Di sinilah jadwal imsakiyah menemukan urgensinya.

Apalah artinya fisik yang kuat menahan lapar jika kita tidak tahu kapan fajar telah terbit? Apalah artinya kekhusyukan dalam beribadah jika berbuka dilakukan sebelum waktunya? Ketepatan waktu adalah bagian dari ketaatan. Dan jadwal imsakiyah adalah instrumen yang membantu menjaga ketepatan itu.

Lebih dari sekadar tabel waktu, imsakiyah adalah simbol kedisiplinan. Ia mengajarkan bahwa ibadah dalam Islam tidak lepas dari pengaturan waktu yang presisi. Shalat lima waktu diatur dengan perhitungan yang akurat. Begitu pula puasa Ramadhan. Islam mendidik umatnya menjadi pribadi yang menghargai waktu, karena waktu adalah amanah.

Menyiapkan jadwal imsakiyah jauh sebelum Ramadhan tiba juga menunjukkan adanya perencanaan. Dalam logika sederhana, seseorang tidak akan menyiapkan sesuatu jika tidak berniat melakukannya. Maka ketika sebuah keluarga menempelkan jadwal imsakiyah di dinding rumah, itu bukan sekadar dekorasi musiman. Itu adalah deklarasi diam bahwa mereka siap berpuasa, siap bangun sahur, dan siap menanti azan magrib dengan penuh kesabaran.

Imsakiyah juga menjadi alat kontrol kolektif. Di tengah masyarakat, ia menyatukan waktu. Ketika satu kampung berbuka pada menit yang sama, ada rasa kebersamaan yang tumbuh. Ketika suara azan berkumandang sesuai jadwal, terasa bahwa kita sedang menjalankan ibadah bersama jutaan Muslim lainnya.

Dalam konteks modern, jadwal imsakiyah kini hadir dalam berbagai bentuk: cetakan, kalender, gambar di medsos atau aplikasi digital. Namun esensinya tetap sama, yaitu memastikan bahwa ibadah dilakukan sesuai tuntunan syariat dan perhitungan yang akurat. Ia adalah pertemuan antara ilmu falak, teknologi, dan ketaatan spiritual.

Maka benar, menyambut Ramadhan tidak cukup dengan kesiapan rohani dan fisik saja. Ketiganya harus hadir: niat yang tulus, tubuh yang dijaga, dan waktu yang dipastikan. Orang yang sungguh-sungguh menjalankan puasa akan mempersiapkan semuanya.

Karena puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menahan diri dalam bingkai waktu yang telah Allah tetapkan. Dan jadwal imsakiyah, sesederhana apa pun bentuknya, adalah saksi keseriusan kita dalam menjaga ibadah agar tetap utuh, sah, dan bernilai di sisi-Nya. Wallu 'Alam.


*) Kepala KUA Benua Kayong

Lebih baru Lebih lama