Oleh : M. Syafi'ie Huddin*
Ramadhan sering kita bayangkan dengan suasana masjid yang penuh, lantunan ayat suci yang menggema, dan orang-orang yang tekun i’tikaf hingga larut malam. Seolah-olah Ramadhan hanya milik mereka yang punya banyak waktu untuk duduk berlama-lama di saf terdepan.
Lalu bagaimana dengan mereka yang tetap harus bekerja? Yang bangun sahur, lalu berangkat pagi-pagi ke kantor. Yang berdiri berjam-jam di pasar. Yang berjaga di rumah sakit saat orang lain terlelap setelah tarawih. Apakah mereka tidak sedang beribadah?
Dalam Islam, ibadah tidak hanya berarti ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah dalam makna luas mencakup semua aktivitas yang diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.
Allah berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini tidak mengatakan “hanya di masjid”, tidak pula “hanya saat membaca Al-Qur’an”. Seluruh hidup adalah ladang ibadah, jika diniatkan karena-Nya.
Bekerja mencari nafkah untuk keluarga? Itu perintah agama. Rasulullah Saw bersabda: “Seseorang yang berusaha mencari nafkah untuk keluarganya adalah seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Thabrani, hasan).
Jadi, seorang ayah yang memeras keringat di bulan Ramadhan demi menyekolahkan anaknya, bukan sedang “mengurangi pahala Ramadhan”. Ia justru bisa saja sedang mengumpulkan pahala yang besar, bahkan sekelas jihad, jika niatnya lurus.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini tidak membatasi pelipatgandaan pahala hanya untuk mereka yang banyak duduk di masjid. Semua amal kebaikan di bulan Ramadhan bernilai besar.
Bayangkan seorang dokter yang tetap sabar melayani pasien dalam keadaan berpuasa. Seorang perawat yang menahan lelah sambil tersenyum. Seorang pedagang yang tetap jujur walau dagangannya laris karena momen Ramadhan. Bukankah itu semua amal shalih?
Rasulullah Saw juga bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika niat bekerja adalah untuk menafkahi keluarga karena Allah, menjaga amanah, dan menghindari yang haram, maka pekerjaan itu berubah menjadi ibadah.
Ramadhan bukan tentang memilih antara ibadah dan bekerja. Ramadhan adalah tentang menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas. Shalat lima waktu tetap ditegakkan. Puasa tetap dijaga. Tapi bekerja pun tetap dijalankan.
Justru keindahan Ramadhan adalah ketika nilai-nilai puasa, sabar, jujur, empati, dibawa ke tempat kerja. Seorang karyawan yang biasanya mudah emosi menjadi lebih tenang. Seorang atasan menjadi lebih lembut. Seorang pegawai menjadi lebih amanah. Itulah buah puasa yang sebenarnya.
Tujuan puasa adalah takwa, bukan sekadar banyaknya rakaat atau lamanya duduk di masjid. Takwa bisa tumbuh di ruang ICU. Takwa bisa tumbuh di pasar tradisional. Takwa bisa tumbuh di sawah dan kantor pemerintahan.
Selama hati terhubung kepada Allah, selama niatnya lurus, selama yang dikerjakan halal dan membawa maslahat, maka itu semua ibadah. Jadi, jangan pernah merasa Ramadhan hanya milik mereka yang siang malam memegang mushaf. Ramadhan juga milik mereka yang memegang cangkul, traktor, sopir, security atau lainnya.
Allah Maha Adil. Dia tidak hanya melihat di mana kita berdiri, tetapi mengapa kita berdiri di sana. Dan bisa jadi, di antara yang paling tinggi pahalanya di bulan ini adalah mereka yang lelah bekerja, namun tetap menjaga shalatnya, tetap jujur, tetap sabar, dan tetap berniat karena Allah. Itulah Ramadhan yang hidup. Wallahu 'Alam.
*) Kepala KUA Benua Kayong
