Oleh : M. Syafi'ie Huddin *
Ramadhan sering disebut sebagai Syahrul Mubarak, bulan yang penuh berkah. Kita mendengarnya setiap tahun, di mimbar-mimbar masjid, dalam ceramah, bahkan di ucapan-ucapan pembuka pesan singkat. Namun, pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak untuk merenungi, seperti apa sebenarnya wujud “berkah” itu?
Secara bahasa, kata barakah berarti nikmat. Tapi dalam pemahaman yang lebih dalam, para ulama menyebutnya sebagai ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Bukan sekadar cukup, tapi melimpah. Bukan sekadar ada, tapi terasa.
Dan Ramadhan adalah panggung besar tempat keberkahan itu dipertontonkan secara nyata.
Berkah Ramadhan tidak hanya turun dalam bentuk ketenangan batin bagi orang yang berpuasa. Ia juga hadir dalam wajah-wajah yang sibuk di pasar, dalam tangan-tangan yang bekerja lebih keras dari biasanya, dalam senyum pedagang kecil yang dagangannya laris menjelang berbuka.
Coba perhatikan suasana sore hari di bulan Ramadhan. Jalanan mendadak ramai. Warung takjil berjejer. Aroma gorengan, kue bingka, jenjorong, dan aneka minuman manis menggoda siapa saja yang lewat. Pedagang kecil yang mungkin di bulan-bulan biasa hanya menjual beberapa porsi, kini harus menambah stok karena pembeli datang silih berganti.
Di sawah, para petani memanen hasil tanamannya dengan harapan harga jual meningkat. Di laut, nelayan kembali dengan tangkapan yang dinanti banyak orang untuk hidangan berbuka. Di toko pakaian, kain dan busana muslim laris menjelang Idul Fitri. Dari skala kecil hingga besar, denyut ekonomi terasa lebih hidup.
Menariknya, keberkahan ini tidak memilih siapa yang saleh dan siapa yang tidak. Bahkan mereka yang tidak berpuasa pun ikut merasakan denyut Ramadhan. Mereka yang mungkin tidak mengimani kewajiban puasa tetap menikmati geliat pasar, ramainya pembeli, meningkatnya omzet.
Inilah uniknya Ramadhan. Ia adalah bulan spiritual, tapi dampaknya sosial. Ia adalah bulan ibadah, tapi getarnya ekonomi. Ia adalah bulan langit, tapi terasa sampai ke bumi.
Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah berkah hanya soal peningkatan pendapatan? Tentu tidak.
Berkah bukan hanya tentang angka yang naik. Ia juga tentang hati yang lebih lembut. Tentang tangan yang lebih mudah memberi. Tentang orang yang biasanya pelit, tiba-tiba ringan bersedekah. Tentang keluarga yang jarang berkumpul, kini duduk satu meja menanti azan Magrib.
Ramadhan mengajarkan bahwa keberkahan sejati bukan sekadar bertambahnya harta, tapi bertambahnya makna dalam hidup. Makanan yang sederhana terasa istimewa. Waktu yang singkat terasa cukup. Rezeki yang mungkin tak seberapa terasa membahagiakan.
Barangkali itulah rahasia ziyadatul khair yang sebenarnya: kebaikan yang bertambah bukan hanya di luar diri kita, tapi juga di dalam hati.
Ramadhan datang setiap tahun. Ekonomi mungkin berputar lebih cepat, pasar lebih ramai, keuntungan meningkat. Tapi yang paling penting, semoga hati kita juga ikut “ramai” oleh syukur, “untung” oleh pahala, dan “naik” oleh kualitas diri.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah tentang merasakan bagaimana keberkahan itu bekerja, dari langit yang tak terlihat, hingga bumi yang kita pijak setiap hari. Wallahu 'Alam.
*) Kepala KUA Benua Kayong
