![]() |
| Suasana rapat LPTQ Kecamatan Benua Kayong, Selasa (10/3/2026) |
KUA Benua Kayong – Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Benua Kayong, M. Syafi’ie Huddin, menegaskan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah personal semata, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya memberi manfaat bagi orang lain.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan paparan dalam rapat Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kecamatan Benua Kayong yang digelar di Aula Kantor Camat Benua Kayong, Selasa (10/3/2026).
Dalam paparannya, M. Syafi’ie Huddin menyampaikan bahwa menjadi pribadi yang baik secara individu sebenarnya tidak terlalu sulit. Seseorang dapat rajin menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, datang ke masjid, menjaga lisan, serta berzikir dan bersedekah. Secara pribadi, hal itu sudah memberikan ketenangan hati dan sering kali membuat seseorang dipandang sebagai pribadi yang saleh.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebaikan yang sejati tidak berhenti pada dimensi pribadi semata.
“Menjadi baik untuk diri sendiri itu seperti menyalakan lampu di kamar pribadi. Terang, iya. Tetapi cahayanya tidak keluar rumah, tidak menerangi jalan orang lain,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Menurutnya, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran terbaik dalam pandangan Nabi Muhammad SAW bukan hanya rajin beribadah secara personal, tetapi juga sejauh mana seseorang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Paparan tersebut menjadi pengantar dalam rapat koordinasi LPTQ Kecamatan Benua Kayong yang membahas persiapan menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten sekaligus penyegaran kepengurusan LPTQ.
Rapat tersebut dihadiri oleh Camat Benua Kayong, Kapolsek, Danramil, para lurah dan kepala desa, kepala sekolah, pengurus LPTQ Kecamatan Benua Kayong, serta pimpinan pondok pesantren di wilayah Kecamatan Benua Kayong.
Dalam kesempatan itu, M. Syafi’ie Huddin juga menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar ajang perlombaan membaca Al-Qur’an, melainkan sarana syiar Islam serta media pembinaan generasi Qur’ani.
“MTQ adalah momentum untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta membina generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain membahas persiapan kafilah Kecamatan Benua Kayong untuk MTQ tingkat Kabupaten, rapat tersebut juga menjadi momentum untuk melakukan penyegaran kepengurusan LPTQ di tingkat kecamatan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kelembagaan serta menghadirkan semangat baru dalam pembinaan tilawah Al-Qur’an di tengah masyarakat. (*)
