![]() |
| Kepala KUA Benu Kayong bersama Waka SMA Negeri 4 dan guru agama serta Pemateri dari KUA Benua Kayong |
KUA Benua Kayong - Dalam rangka optimalisasi pembinaan keluarga sakinah, Kantor Urusan Agama (KUA) Benua Kayong melaksanakan Program Pembinaan Keluarga Sakinah Berbasis Kelompok Sasaran bertajuk “The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat)”. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Ramadan 1447 H/2026 M dengan tema “Joyful Ramadan Mubarak”, dan dilaksanakan di Aula SMA Negeri 4 Ketapang, Kamis (26/02/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Kepala SMA Negeri 4 Ketapang, Khairussadikin, S.Pd., guru Pendidikan Agama Islam H. Misnawar, S.Pd.I., serta tiga penyuluh agama Islam KUA Benua Kayong sebagai pemateri, yakni Sy. Ghazwal Fikri, S.Pd.I., Nur Hajiman, S.Pd.I., dan Marlina, S.Pd.I.
Kepala KUA Benua Kayong, H.M. Syafi’ie, S.Ag., dalam pengantarnya mengucakan terima kasih kepada Kepala Sekolah SMA Negri 4 yang telah memberikan kesempatan dengan difasilitasinya kegiatan The Most KUA.
Dijelaskan Syafi'ie, program “The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat)” merupakan program transformasi layanan KUA yang diluncurkan Kementerian Agama pada Februari 2026. Program ini mendorong KUA berperan lebih aktif sebagai pusat edukasi dan layanan keluarga melalui pendekatan proaktif.
“Program ini mendorong KUA bertransformasi menjadi pusat edukasi dan layanan proaktif atau menjemput bola, melalui edukasi pranikah dan pendampingan keluarga untuk menciptakan ketahanan keluarga yang sakinah,” ujarnya.
Syafi’ie menjelaskan, program tersebut menyasar tiga kelompok utama, yakni remaja usia sekolah antara 14 hingga 19 tahun yang belum menikah, remaja usia nikah 19 tahun ke atas yang belum menikah, serta keluarga muslim secara umum, khususnya pasangan muda dengan usia pernikahan di bawah lima tahun.
Ia menambahkan, pembinaan bagi remaja usia sekolah difokuskan pada pembentukan karakter, penguatan nilai diri, serta pencegahan perkawinan anak dalam perspektif Islam melalui bimbingan pranikah. Menurutnya, siswa menjadi salah satu sasaran penting agar memiliki literasi yang memadai tentang keluarga dan pernikahan.
“Para remaja perlu diberikan pemahaman tentang makna pernikahan, tanggung jawab suami-istri, serta pentingnya kesiapan mental, emosional, dan ekonomi,” jelasnya.
Selain itu, edukasi juga diarahkan untuk mencegah pernikahan dini dengan memberikan pemahaman mengenai dampak sosial, kesehatan, dan pendidikan jika menikah di usia terlalu muda. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tetap fokus menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-cita.
Program ini juga memberikan pembinaan agar remaja mampu menjaga diri dari pergaulan bebas, kekerasan, dan penyimpangan sosial, serta memahami pentingnya perencanaan pendidikan, karier, dan kehidupan sebelum memasuki jenjang pernikahan.
“Program ini bukan untuk mendorong remaja segera menikah, tetapi mempersiapkan pemahaman dan kedewasaan berpikir agar ketika waktunya tiba, mereka siap membangun keluarga yang sakinah dan maslahat,” pungkas Syafi’ie.(*)
